Sabtu, 05 Februari 2011

Materi tentang Bintang bag. 2

 A.2  SISTEM MAGNITUDO
            Magnitudo yang telah dibicarakan sebelumnya diukur berdasarkan kepekaan mata yang berada pada daerah λ = 5500 Ao (cahaya kuning – hijau), karena itu magnitudonya disebut magnitudo visual (mv). Sejak akhir abad ke-19, fotografi mulai berkembangdan para astronom mulai menggunakannya untuk menentukan magnitudo bintang. Dibandingkan dengan mata, emulsi fotografi lebih peka pada cahaya biru – ungu yang berada pada daerah λ = 4500 Ao. Magnitudo yang diukur secara fotografi ini disebut magnitudo fotografi (mfot).
            Pengukuran dengan magnitudo visual dan magnitudo fotografi untuk bintang yang sama akan terdapat perbedaan. Sebagai contoh kita bandingkan antara bintang Rigel dan bintang Betelgeuse yang berada di rasi Orion. Bintang Rigel berwarna biru dan bintang Betelgeuse berwarna merah. Jika diamati secara fotografi, bintang Rigel akan tampak lebih terang daripada jika diamati secara visual. Hal ini terjadi karena bintang Rigel yang berwarna biru akan lebih banyak memancarkan cahaya biru; dalam hal ini mv > mfot (makin terang suatu bintang, makin kecil magnitudonya). Sebaliknya, bintang Betelgeuse yang berwarna merah akan lebih terang jika diamati secara visual daripada secara fotografi, karena bintang ini lebih banyak memancarkan cahaya kuning daripada cahaya biru, dengan demikian mv < mfot.
            Jadi pada umumnya, untuk setiap bintang, harga mv berbeda dengan mfot. Selisih kedua magnitudo itu, yaitu magnitudo fotografi dikurangi magnitudo visual, disebut Indeks Warna (mfot – mv). Makin panas atau biru suatu bintang, makin kecil indeks warnanya. Karena adanya selisih ini, perlu diadakan pembakuan titik nol kedua magnitudo tersebut. Dari persamaan (3) diperoleh :
                     mv = -2,5 log Ev + Cv
                   mfot = -2,5 log Efot + Cfot                                          (5)
dengan Cv dan Cfot adalah konstanta (tetapan). Tetapan Cv dan Cfot ini dapat diambil sedemikian rupa sehingga
             mv =  mfot                                                                         (6)
Untuk memenuhi kondisi ini, digunakan bintang Vega (kelas spektrum AOV) sebagai bintang standar. Dengan demikian indeks warna bintang Vega adalah nol.
           ( mfot - mv )vega = 0
Berdasarkan definisi ini, untuk bintang yang lebih biru dari Vega, indeks warnanya akan negatif. Sebagai contoh, magnitudo fotografi bintang Rigel mfot = -0,03 dan magnitudo visualnya adalah mv = 0,14, jadi indeks warna bintang Rigel adalah mfot  - mv = -0,17. Sebaliknya untuk bintang yang lebih merah dari Vega, indeks warnanya negatif. Sebagai contoh, bintang Betelgeuse yang mempunyai magnitudo fotografi mfot = 2,14 dan mv = 0,70, sehingga indeks warnanya adalah mfot  - mv = 1,44.
            Pada awalnya, pelat fotografi hanya peka pada cahaya biru–ungu. Dengan makin berkembangnya fotografi, maka dapat dibuat pelat potret yang peka pada daerah panjang gelombang lainnya, seperti daerah kuning, merah, bahkan inframerah. Kemudian, dengan mengkombinasikan pelat potret dengan filter, dapat diperoleh berbagai sistem magnitudo.      

Pada tahun 1951, H.L. Johnson dan W.W. Morgan memperkenalkan sistem magnitudo yang disebut sistem UBV, yaitu :
            U = magnitudo semu dalam daerah ungu (mU) dengan λef = 3600 Ao
            B = magnitudo semu dalam daerah biru (mB) dengan λef = 4300 Ao
            V = magnitudo semu dalam daerah visual (mV) dengan λef = 5500 Ao
                                                                          
            Gambar 1. Daerah Kepekaan Pengukuran Magnitudo
Dalam sistem ini, indeks warnanya adalah U – B dan B – V. untuk bintang standar Vega, U = B = V atau U – B = B – V = 0. Dengan demikian, bintang yang mempunyai harga (B – V) > 0, maka bintang tersebut labih merah dari Vega, sebaliknya, bintang dengan (B – V) < 0, akan lebih biru dari Vega. Gambar 1. Menunjukkan fungsi kepekaan untuk sistem magnitudo UBV.
            Dewasa ini pengamatan fotometri tidak lagi menggunakan pelat film, tetapi dilakukan dengan menggunakan kamera CCD (digital), sehingga untuk menentukan bermacam-macam sistem magnitudo hanya ditentukan oleh filter yang digunakannya saja. Selain sistem magnitudo yang dibicarakan diatas, masih ada lagi sistem magnitudo lainnya seperti yang diperlihatkan dalam Tabel. 2.


Tabel. 2 Berbagai Sistem Magnitudo
yang sering digunakan dalam penelitian Astronomi

Sistem Magnitudo
Magnitudo
Warna
λ Efektif (Ao)
Lebar Pita (Ao)

Sistem UGR dari Becker
U
Ultraviolet
3.690

500 – 700
G
Hijau
4.680
R
Merah
6.380

Sistem UBV dari Johnson dan Morgan
U
Ultraviolet
3.500

800 – 1000
B
Biru
4.350
V
Kuning
5.550

Sistem Stromgren (Sistem ubvy)
u
Ultraviolet
3.500

~ 200
v
Violet
4.100
b
Biru
4.670
y
Hijau
5.470



Sistem Stebbins dan Withford
U
Ultraviolet
3.550



600 - 1500
V
Violet
4.200
B
Biru
4.900
G
Hijau
5.700
R
Merah
7.200
I
Inframerah
10.300


Di sadur dari buku astronomi 2009.
READ MORE - Materi tentang Bintang bag. 2

The Fact About Crop Circle

Crop circles or the circles that form a pattern on a field is considered as the handiwork of extraterrestrials. Most of us still believe that extraterrestrials have landed in their fields and consequently form a unique pattern.

One of the Crop Circle pattern


Some crop circles have a distinguished pattern is simple, and partly to have a distinguished pattern complex. Actually crop circle made by farmers who do like art, they describe their work on their own fields. In this way, the farmers hope to become famous by the way admitted that it was not the result of their work, but the work of extraterrestrials.

But lately known that crop circles are the work of the artists. Many companies who hire the fields, then pay the artists to make work. The goal is a major attraction for their products. Like the picture below.




You surely can guess what company image above. Furthermore, how people can make such a neat crop circles? The artist has its own way in making a general reply crops circle pattern, they only takes less than 2 hours in a circle crops. They use the long rope, and similar cutting tools that will be used to cut plants. Manufacturing process is as follows:
  •  First, each person holding both ends of the rope. 
  •  One person is still in place, and another person walked around the silent while cutting the plants in its path. 
  • In this way it will form a perfect circle.
  • Then, they combine the circles that will form a pattern that we know as the circle crops.
Here I include the video ...
Video above is a way to make a pattern. Here is the process after the pattern is formed.

If there is a need to be asked please leave a comment.
READ MORE - The Fact About Crop Circle

Fakta tentang Crop Circle

Crop circle atau lingkaran2 yang membentuk pola pada suatu ladang di anggap sebagai hasil perbuatan dari makhluk luar angkasa. Kebanyakan dari kita masih percaya bahwa makhluk luar angkasa telah mendarat di ladang mereka dan akibatnya membentuk suatu pola yang unik.

Salah satu pola Crop Circle


Beberapa crop circle memiliki pola yg sederhana, dan sebagian lagi memiliki pola yg rumit. Sebenarnya crop circle dibuat oleh para petani yg memang menyukai seni, mereka melukiskan karya mereka di atas ladang mereka sendiri. Dengan cara ini, para petani berharap dapat menjadi terkenal dengan cara mengaku bahwa itu bukan hasil karya mereka, melainkan hasil karya makhluk luar angkasa.

READ MORE - Fakta tentang Crop Circle

Kumpulan Foto 1 (Photo Collection 1)















READ MORE - Kumpulan Foto 1 (Photo Collection 1)