Sabtu, 05 Februari 2011

The Fact About Crop Circle

Crop circles or the circles that form a pattern on a field is considered as the handiwork of extraterrestrials. Most of us still believe that extraterrestrials have landed in their fields and consequently form a unique pattern.

One of the Crop Circle pattern


Some crop circles have a distinguished pattern is simple, and partly to have a distinguished pattern complex. Actually crop circle made by farmers who do like art, they describe their work on their own fields. In this way, the farmers hope to become famous by the way admitted that it was not the result of their work, but the work of extraterrestrials.

But lately known that crop circles are the work of the artists. Many companies who hire the fields, then pay the artists to make work. The goal is a major attraction for their products. Like the picture below.




You surely can guess what company image above. Furthermore, how people can make such a neat crop circles? The artist has its own way in making a general reply crops circle pattern, they only takes less than 2 hours in a circle crops. They use the long rope, and similar cutting tools that will be used to cut plants. Manufacturing process is as follows:
  •  First, each person holding both ends of the rope. 
  •  One person is still in place, and another person walked around the silent while cutting the plants in its path. 
  • In this way it will form a perfect circle.
  • Then, they combine the circles that will form a pattern that we know as the circle crops.
Here I include the video ...
Video above is a way to make a pattern. Here is the process after the pattern is formed.

If there is a need to be asked please leave a comment.
READ MORE - The Fact About Crop Circle

Fakta tentang Crop Circle

Crop circle atau lingkaran2 yang membentuk pola pada suatu ladang di anggap sebagai hasil perbuatan dari makhluk luar angkasa. Kebanyakan dari kita masih percaya bahwa makhluk luar angkasa telah mendarat di ladang mereka dan akibatnya membentuk suatu pola yang unik.

Salah satu pola Crop Circle


Beberapa crop circle memiliki pola yg sederhana, dan sebagian lagi memiliki pola yg rumit. Sebenarnya crop circle dibuat oleh para petani yg memang menyukai seni, mereka melukiskan karya mereka di atas ladang mereka sendiri. Dengan cara ini, para petani berharap dapat menjadi terkenal dengan cara mengaku bahwa itu bukan hasil karya mereka, melainkan hasil karya makhluk luar angkasa.

READ MORE - Fakta tentang Crop Circle

Kumpulan Foto 1 (Photo Collection 1)















READ MORE - Kumpulan Foto 1 (Photo Collection 1)

Jumat, 04 Februari 2011

Materi Tentang Bintang bag. 1

A.  Bintang
A.1. TERANG BINTANG
            Seperti yang kita ketahui, informasi dari bintang yang diterima pengamat di bumi antara lain dari pancarannya. Terang bintang merupakan suatu besaran (pancaran) yang dapat diukur dengan mudah, paling tidak secara kuantitatif, yaitu dengan membandingkan berbagai bintang. Walaupun hanya dengan mata, kita dapat membedakan apakah bintang A lebih terang dari bintang B, atau sebaliknya.
            Pada abad kedua sebelum masehi (sekitar tahun 129 SM) seorang astronom Yunani yang bernama Hipparchos membuat catalog bintang, yaitu dengan membagi bintang menurut terangnya dalam enam kelompok. Bintang yang paling terang tergolong magnitudo kesatu, yang lebih lemah tergolong magnitudo kedua, dan seterusnya hingga bintang yang paling lemah yang hampir tak terlihat dengan mata termasuk magnitudo keenam.
Gambar . Skala magnitude menurut Hipparchos. 

Penggolongan Hipparchos ini diubah untuk pertama kalinya oleh Galileo Galilei . Dengan menggunakan teleskop yang dibuatnya sendiri, Galileo menemukan banyak bintang yang cahayanya lebih lemah daripada binatng bermagnitudo 6 yang didefinisikan Hipparchos. Selanjutnya John Herschel mendapatkan bahwa kepekaan mata bersifat logaritmik, yaitu bintang yang magnitudonya satu ternyata 100 kali lebih terang daripada bintang yang magnitudonya enam. Berdasarkan kenyataan ini, pada tahun 1856, Norman R. Pogson mendefinisikan skala satuan magnitudo secara lebih tegas lagi. Definisi yang diberikan oleh Pogson adalah sebagai berikut : tinjaulah dua buah bintang, yaitu Bintang A dan Bintang B. Misalkan mA adalah magnitudo bintang A yangdilihat dengan mata, mB adalah magnitudo bintang B yang dilihat dengan mata, EA adalah jumlah energy bintang A yang diterima di Bumi (fluks bintang yang diterima di Bumi), dan EB adalah jumlah energy bintang B yang diterima di Bumi. Menurut Pogson :
mA - mB = -2,5 [log EA - log EB]                                                (1)
Tanda negatif berarti magnitudo bertambah besar apabila bintang bertambah terang (bintang bermagnitudo satu lebih terang daripada bintang bermagnitudo dua).
            Persamaan (1) dapat dituliskan sebagai :
           mA - mB = -2,5 log (EA/EB)                                                    


            Pada awalnya, bintang Polaris yang terlihat di semua observatorium di belahan langit utara digunakan sebagai acuan magnitudo. Bintang ini diberi magnitudo 2, dan yang lainnya dibandingkan dengan bintang Polaris ini. Namun pada tahun 1911 Herztprung mendapatkan bahwa bintang Polaris adalah bintang variable yang cahayanya berubah-ubah (meskipun perubahannya hanya sekitar 0,1 magnitudo). Dengan demikian, Polaris tidak ,penggunaan sekelompok bintang yang berada di sekitar kutub utara yang dinamakan North Polar Sequence. Dewasa ini, sebagai acuan magnitudo digunakan bintang-bintang dari berbagai daerah di langit hasil pengukuran Johnson dan Morgan pada tahun 1953.
            Untuk keperluan praktis, digunakan bintang standar Vega (α Lyra). Bintang ini mempunyai magnitudo m = 0,02. Karena magnitudonya yang mendekati nol, maka dapat dianggap m(Vega) = 0. Jadi untuk bintang yang lebih terang dari Vega, magnitudonya m < 0; untuk bintang yang lebih lemah , m > 0Bintang yang lebih terang dari Vega magnitudonya berharga negatif, misalnya bintang Sirius mempunyai m = -1,6, bulan purnama mempunyai m = - 12,5, dan magnitudo matahari adalah m = -26,7.
            Magnitudo yang dibicarakan diatas merupakan ukuran terang bintang yang kita lihat atau terang semu bintang, hal ini dikarenakan ada faktor jarak yang harus diperhitungkan seperti tampak dalam persamaan berikut :
           m = -2,5 log L/4πd+ C                                                                        (2)
dimana ; L = Luminositas benda, d = jarak dan C adalah suatu tetapan.
               Dari persamaan (2) ini dapat kita lihat bahwa magnitudo bintang bergantung kepada jaraknya. Jadi bintang yang tampak lemah cahayanya, belum tentu benar-benar lemah cahayanya, karena mungkin saja karena jarak bintang tersebut jauh. Oleh karena itu magnitudo yang dibicarakan diatas disebut magnitudo semu (apparent magnitude) atau biasa disebut magitudo saja.
            Dalam Tabel 1. diperlihatkan bahwa magnitudo semu beberapa benda langit, temasuk bintang, planet, Bulan, dan Matahari. 

Tabel 1. Magnitudo beberapa benda langit
Nama Bintang
Magnitudo
Polaris
2.00
Regulus
1.50
Pollux
1.16
Spica
1.00
Aldebaran
1.00
Betelgeuse
0.80
Procyon
0.50
Vega
0.00
Capella
0.00
Sirius
-1.42
Jupiter
-2.50
Bulan Purnama
-13.00
Matahari
-26.70
 di sadur dari buku astronomi 2009
READ MORE - Materi Tentang Bintang bag. 1